Riview China vs Indonesia: Konsekuensi Bermain Menyerang

Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah China di pertandingan ke empat grup C kualifikasi Piala Dunia zona Asia, Selasa (15/10/2024).

Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah China, 2-1 pada laga kesempatan babak kualifikasi Piala Dunia 2024 babak ketiga.
Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah China, 2-1 pada laga kesempatan babak kualifikasi Piala Dunia 2024 babak ketiga.

Jakarta – Skuad asuhan Shin Tae Yong harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor yang tak terlalu mencolok, 2-1.

Terlepas dari kekalahan Tim Garuda pada pertandingan tersebut, sejatinya Asnawi Mangku Alam dan kawan-kawan tampil jauh lebih baik dari Tiongkok. Bisa di katakan kemenangan China pada laga ini tak berbau keberuntungan.

Ya, sepakbola tak teepisahkan dari faktor hoki. Indonesia menang dalam seluruh aspek permainan, tapi kalah dari skor akhir.

Dari sisi pengurasan bola, Indonesia jauh mengungguli China, 24 berbanding 76 persen sangat jelas ketimpangan ball position untuk sektor ini.

Yang tak kalah menarik, Indonesia berhasil melakukan pasing sebanyak 602 dengan persentase keakuratan 83 persen.

Sedangkan China hanya mampu melakukannya 164 kali dan hanya akurat 52 persen.

Dominasi Timas Garuda kembali terlihat dari sisi tendangan ke gawang dengan jumlah 14 kali, 6 tendangan diantaranya mengarah ke mulut gawang.

Tuan rumah hanya mampu melakukan shooting sebanyak 5 kali dengan mengarah ke gawang 3 kali. Bedanya, 2 dari kesempatan itu berhasil membuahkan gol.

Dari tendangan penjuru, Indonesia juga jauh dominan dengan mendapatkan corner kick sebanyak 6 kali. Sedangkan China hanya mendapatkan satu kali saja.

Berkaca dari statistik pertandingan, tidak bisa di pungkiri, Indonesia seperti tampil di kandang sendiri meski sejatinya bermain di depan puluhan ribu publik tuan rumah.

Apalagi baru kali ini Indonesia tampil menguasai permainan pada sepanjang pertandingan di grup C.

Sejak kick off di bunyikan, tim tamu langsung mengambil inisiatif menyerang dan melakukan tekanan terutama dari sisi kanan dan kiri pertahanan China.

Pasing-pasing akurat yang diperagakan sangat menawan. Cina dipaksa bertahan dan ikut-ikutan memainkan drama ala Bahrain dengan melakukan upaya mengulur-ngulur waktu pada saat leading.

Mungkin yang menjadi catatan tim pelatih adalah, Tim Garuda tampil terkesan terlalu percaya diri. Mereka bermain menekan sejak babak pertama berlangsung. Hal ini tidak terlihat ketika menghadapi Arab Saudi, Australia maupun Bahrain.

Pada tiga pertandingan awal, Indonesia lebih cendrung membaca bentuk permainan lawan dan baru menyusun serangan pada 10 hingga 15 menit akhir babak pertama.

Lini Belakang Lengah

Lahirnya gol pertama China pada menit ke-21 melalui Abdulweli dan gol kedua pada menit ke-44 melalui Y Zhang tak terlepas dari kelengahan trio belakang yang gagal mengantisipasi serangan.

Minimnya komunikasi serta terlalu fokus menyusun serangan sehingga membuat  barisan belakang sedikit longgar dan menjadi celah bagi Tiongkok mencetak gol.

Hal ini seharusnya tidak terjadi, jika Indonesia bermain lebih menunggu setidaknya melakukan hal yang sama saat menghadapi Bahrain.

Namun, apa pun hasil pertandingan kali ini, publik sepakbola Indonesia harus menerimanya dengan lapang dada.

Inilah “hukuman” bermain terbuka dan menyerang. Tim lawan bisa memanfaatkan kelengahan menjadi sebuah gol.

Kesempatan mengamankan posisi setidaknya berdasarkan di peringkat 4 di grup ini masih terbuka. Salah satunya dengan membalas kekalahan atas China GBK di partai home. (*)

Exit mobile version