Kalah 7 Kali Beruntun, Mau Ganti Apa Lagi?

Arief Kamil (Wartawan Olahraga Sumatera Barat).

Publik Semen Padang tak habis pikir dengan hasil buruk yang diderita Semen Padang hingga pekan ke-10 BRI Super League 2025-2025.

Dari 10 pertandingan yang dilakoni, Kabau Sirah baru sekali merasakan manisnya kemenangan, satu kali imbang dan sisanya menderita kelahan.

Manajemen Semen Padang sebenarnya telah mendengarkan masukan fans. Mereka telah mengganti pelatih kepala Eduardo Almaida, lantaran gagal membawa perbaikan di tim.

Tidak itu saja, CEO Semen Padang FC, Win Bernadino pun diganti, karena adanya desakan dari banyak pihak, termasuk suporter.

Hanya saja, sejauh ini belum ada perubahan berarti. Pelatih kepala Dejan Antonic yang dipercaya menggantikan Almaida, belum bisa berbuat banyak.

Dalam tiga laga yang telah dilakoni, Semen Padang belum menunjukan progres yang sesuai ekspektasi publik. Selalu saja kalah, termasuk ketika Dejan mendampingi tim saat menjamu Arema FC, Senin (3/11/2025) yang berakhir dengan kekalahan, 1-2.

Dari pandangan penulis, ada beberapa kendala besar tim ini, sehingga gagal bersaing dengan kontestan lain di Super League.

Mulai dari minimnya kreasi taktik yang diterapkan pelatih, belum maksimalnya kinerja antar lini serta kehadiran pemain asing yang kualitasnya tak berbeda jauh dengan pemain lokal.

Bertindak sebagai tuan rumah, setiap tim bisanya bermain lebih menekan, menyerang dan mendominasi. Untuk menerapkan permainan seperti ini dibutuhkan taktik yang matang. Situasi ini bisa dikatakan tidak terlihat saat menjamu setiap tim tamu di Stadion Haji Agus Salim.

Semen Padang terkesan terbawa dengan permainan lawan yang seharusnya melakukan kontra strategi. Hanya saja, ketika pemain tidak bisa menjalankan taktik menyerang dan menekan, maka tim lawan yang berbalik melakukan strategi tersebut, sehingga mereka mampu mendominasi dan meraih hasil maksimal.

Masalah kedua, kinerja masing-masing lini baik sektor belakang, tengah dan depan masih jauh dari yang diharapkan. Lini tengah Semen Padang pada setiap laga selalu kalah. Sehingga ketika lini ini tidak berjalan, maka sektor depan dan belakang akan terkena imbasnya.

Pada saat diserang, ketika gelandang bertahan gagal menjalankan tugas sebagai penghalau serangan utama, akan membuat barisa pertahanan kocar-kacir. Pada situasi ini sering melahirkan ancaman hingga melahirkan gol untuk tim lawan.

Sebaliknya, ketika gelandang serang tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam menyuplai bola ke barisan depan, maka peluang sebesar apapun dalam mencetak gol bisa saja buyar karena pemain tengah dan depan minim koneksi.

Masalah terakhir adalah menyangkut kualitas pemain asing yang kini dimiliki. Dulu, Semen Padang memiliki barisan striker kreatif, cepat dan mematikan. Sebutlah diantaranya Edward Wilson Junior dan Marcel Sacramento.

Tentu pula masih ingat, sederet gelandang elegan yang sekarang masih ada di hati publik. Mereka adalah Esteban Vizcarra dan Yu Hyun Ko.

Lalu di sektor pertahanan, siapa yang tidak kenal dengan Casio de Jesus,  David Ngan Pagbe, Carlos Renato Ilyas hingga Antonio Claudio.

Sederet pemain tersebut memiliki kualitas di atas rata-rata pemain lokal saat itu. Sehingga wajar, mereka menjadi tulang punggung dan mampu membawa perubahan signifikan di tim.

Bukan bermaksud merendahkan kemampuan pemain asing yang ada saat ini, namun kehadiran sederet pemain impor tersebut belum mampu mengangkat performa tim secara utuh.

Putaran pertama tinggal menyisakan 7 pertandingan lagi. Publik mungkin tidak terlalu berharap banyak dengan situasi dan kondisi yang dihadapi Semen Padang saat ini di sisa pertandingan.

Harapan bangkit dengan sederet perubahan signifikan harus dilakukan pada putaran kedua nanti.

Upaya yang masuk akal adalah mengganti sederet pemain asing dengan pemain yang telah berpengalaman bermain di kompetisi domestik. Inilah opsi terakhir, jika masih ada yang harus di ganti di tim ini. (*)

Exit mobile version