Terzalimi, Mahasiswa Geruduk Rektorat UIN Sjech M. Djamil Djambek

Seratusan mahasiswa saat melakukan orasi di depan rektorat.
Seratusan mahasiswa saat melakukan orasi di depan rektorat.

Bukittinggi, posInfo.co – Merasa terzalimi, seratusan mahasiswa UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittingi geruduk gedung Rektorat kampus tersebut, Kamis (8/6/2023).

Sederet tuntutan dan keluhan disampaikan sekitar 200 mahasiswa yang ambil bagian pada demo tersebut.

Mereka menyampaikan beberapa hal yang sangat memberatkan mahasiswa.

Hal itu meliputi kewajiban pemindahan Fasilitas Kesehatan ke Klinik  Pratama UIN SMDD Bukittinggi.

Selanjutnya, tarif dan sulitnya pemakaian fasilitas kampus serta kurangnya tenaga pendidik.

Selain itu kurikulum kampus di nilai yang tidak berkesinambungan.

Baca juga: Bukittinggi Dilanda Kemarau, 40 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Berawal dari Keresahan Mahasiswa

Presiden Mahasiswa UIN Sjech M.Djamil Djambek Ahmad Zaki, aksi ini beranjak dari keresahan mahasiswa UIN.

Lantaran sangat banyak kebijakan kampus yang sudah merugikan mahasiswa.

“Seperti adanya kebijakan sepihak  dari Rektorat seperti  pemindahan fasilitas kesehatan,” ujar Ahmad Zaki.

Ia menegaskan, mahasiswa telah melakukan kewajibannya, tetapi tidak sepadan dengan hak yang mahasiswa dapatkan.

“Fasilitas kampus tidak memadai dan kurang layak. Mulai dari akses jalan masuk ke kampus,  parkiran untuk mahasiswa.”

“Belum lagi keamanan dan sulitnya penggunaan fasilitas kampus oleh mahasiswa. Termasuk sarana prasarana kurang mendukung,” tambahnya.

Kemudian, kewajiban pemindahan fasilitas kesehatan ke klinik pratama UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi.

Ia menilai surat edaran rektor yang meresahkan mahasiswa.

“Ada ancaman dari pihak LP2M, bagi mahasiswa yang belum memindahkan faskes tersebut, tidak diperkenankan untuk mengikuti KKN,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, jika tidak mengindahkan imbauan itu, akan berimbas pada kegagalan pelaksanaan KKN di t2023..

Sebelumnya, pemindahan Faskes ini juga terkait dengan pencairan beasiswa KIP-semester ganjil tahun 2023.

Mahasiswa yang tidak memindahkan Faskesnya, maka beasiswa KIP tidak akan dicairkan.

“Tuntutan kami juga sekaitan dengan kurangnya tenaga pendidik dan kurikulum kampus yang tidak berkesinambungan,” tambahnya lagi.

Sempat Ricuh

Kedatangan mahasiswa ke Gedung Rektotat  ternyata tidak membuahkan hasil.

Pasalnya Rektor Prof. Dr. Ridha Ahida tidak berada di tempat, lantaran sedang dinas ke luar daerah.

Sempat terjadi kericuhan dalam aksi tersebut terkait ketidakpuasan mahasiswa tentang ketidak kehadiran rektor.

“Kita minta rektor menandatangani tuntutan mahasiswa. Jika aspirasi mahasiswa tidak terpenuhi, akan ada mobilisasi massa lebih besar,” tegas Ahmad Zaki.

Ia mewakili mahasiswa lain ingin Rektor mendengar  aksi tersebut.

Pihak mahasiswa memberikan waktu  7 x 24 jam untuk evaluasi dari mahasiswa.

“Alasan rektor tidak ada di ruangan tidak rasional, sehingga sempat ada aksi anarkis,” tegasnya.

Sementara itu, pihak Rektorat melalui Wakil Rektor II Dr. Zulfani Sesmiarni menjelaskan  tentang kebijakan-kebijakan pihak kampus sesuai tuntutan mahasiswa.

“Apa yang disampaikan kawan-kawan mahasiswa akan dikaji lagi. Tapi, kebijakan-kebijakan tersebut ada dasarnya,” jelas Zulfani Sesmiarni.

Sebelumnya sudah ada sosialisasi dan tidak serta merta kebijakan tersebut tanpa sepengetahuan mahasiswa.

Kebijakan juga untuk mahasiswa itu sendiri. Kami akan bicarakan kembali bersama pimpinan tentang tuntutan mahasiswa dalam aksi ini,” tutupnya. (010)

Exit mobile version