Bukittinggi Dilanda Kemarau, 40 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Seorang petani sedang asik menikmati pekerjaan di sawah miliknya.
Seorang petani sedang asik menikmati pekerjaan di sawah miliknya.

Bukittinggi, posinfo.co – Nyaris hampir seluruh daerah di Sumatera Barat di landa kemarau.

Meski hujan masih turun, namun intensitas panas dan kemarau jauh lebih tinggi. Akibatnya berdampak pada banyak sektor, salah satunya pertanian.

Jika, kemarau terus berlanjut, ratusan hektare sawah milik petani bakal gagal panen. Itu artinya, harga beras akan membumbung tinggi hingga terjadi inflasi.

Di Kota Bukittingi saja saat ini, sebanyak 40 hektare sawah tadah hujan terancam gagal panen.

Kondisi ini tentu akan “memukul” para petani. Ujung-ujungnya mereka merugi, masyarakat pun sulit mendapatkan beras.

Pilih Tanaman Berumur Pendek

Untuk meminimalisir dampak kemarau, masyarakat dianjurkan menanam tanaman berumur pendek dan tidak terlalu banyak membutuhkan air.

Tanaman itu seperti jagung, palawija dan sayur-sayuran.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Bukittinggi Abdul Halim mengatakan, luas lahan sawah di Kota Bukittinggi saat ini sebanyak 388 hektar.

Sawah tersebut paling dominan di Kecamatan Mandiangin Koto Selayan dan Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh serta sebagian di Kecamatan Guguakpanjang.

“Tahun 2022, produksi padi di Bukittinggi 5889 ton dan produktifitas khusus padi 6,7 ton/hektar dan tertinggi di Sumbar.”

“Sedangkan, produksi jagung sebanyak 343 ton, ujarnya, Rabu (7/6/2023)

Untuk mengatasi ancaman kekeringan, petani bisa menanam varietas tanaman yang tidak terlalu banyak butuh air.

Ia menyebut, di Sumbar tidak ada sawah yang betul-betul kering. Artinya, secara umum El Nino tidak terlalu berpengaruh signifikan di Sumbar khususnya Bukittinggi.

Hanya Penuhi 20 Persen

Abdul Halim menambahkan, produksi padi di Bukittinggi hanya bisa memenuhi 20 persen kebutuhan warga kota.

Kebutuhan beras Bukittinggi tergantung daerah hinterland atau daerah sekitar.

Apabila terjadi kekeringan di daerah hinterland seperti Agam atau Tanah Datar, maka Bukittinggi akan terimbas.

“Jika kekeringan melanda daerah hinterland, Bukittinggi akan terimbas. Karena 80 persen beras Bukittinggi berasal dari daerah hinterland tersebut.”

Ia memastikan, ecara umum, kebutuhan beras Bukittinggi sudah aman.

Namun, apabila Bukittinggi kekeringan, maka petani yang merasakan imbasnya.

Lebih lanjut, Abdul Halim menyebutkan perubahan musim saat ini menyebabkan banyak hama.

Petani harus segera melaporkan ke penyuluh pertanian setiap kelurahan, jika melihat hama.

Untuk itu petani juga dapat membersihkan saluran air dan memperbaiki saluran rusak. Setiap kelompok tani sudah ada bantuan pompa.

Tidak Terpengaruh El Nino

Anggota Komisi 2 DPRD Bukittinggi Asril,  menyebutkan secara umum Bukittinggi tidak terpengaruh dengan El Nino.

Apalagi, sawah tadah hujan tidak banyak di Bukittinggi.

Di Bukittinggi, banyak terdapat sawah irigasi.

Sawah tadah hujan ada di daerah Koto Selayan.

“Jadi, El Nino atau ancaman kekeringan tidak terlalu berpengaruh,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, jika sawahnya terancam kekeringan, maka kesempatan bagi petani beralih ke tanaman palawija, cabe dan kacang-kacangan. (025)

 

Exit mobile version