Musprovlub KONI Sumbar Ngeri-ngeri Sedap!

Arief Kamil Wartawan Olahraga.

Ajang pemilihan ketua KONI Sumatera Barat yang nantinya terangkum dalam Musyawarah Olahraga Luar Biasa (Musprovlub) yang digelar, Senin (29/9/2025), ngeri-ngeri sedap.

Dua kandidat benar-benar dituntut bekerja ekstra, karena usaha mengumpulkan surat dukungan minimal 30 persen yang dilakukan jauh-jauh hari tak berguna.

Regulasi memaksa mereka berkompetisi ulang dalam mengais surat dukungan mulai dari nol lagi. Karena form dukungan yang di keluarkan oleh TPP berbeda dengan bentuk yang selama ini beredar. Form resmi dengan kode tertentu.

Surat dukungan yang sebelumnya sudah dikantongi pun dianggap tidak sah. Bahkan perburuan  ulang hanya diberikan waktu kurang lebih 24 jam saja. Otomatis, tim pemenangan masing-masing calon harus bekerja keras.

Di sisi lain, perang urat syaraf kental terasa. Beragam aroma menghalalkan segala cara terkesan nyata. Belum lagi dugaan menggunakan kekuatan pemerintah sebagai bentuk teror terhadap calon lain.

Bahkan dari informasi yang diperoleh di arena Rakorsi, Sabtu (27/9/2025), kondisi di dalam aula kantor gubernur sempat memanas. Aura kompetisi makin terasa.

Sportivitas hanya di Atas Kertas

Sportivitas merupakan nantinya olahraga. Namun, pada kondisi tertentu, sportivitas itu cuma di atas kertas. Dalam pemilihan ketua KONI contohnya.

Demokrasi olahraga yang sedianya berlangsung sportif dan  diharapkan menjadi barometer untuk gelaran yang akan datang, justru dicederai oleh hal-hal yang tidak pantas dan memalukan.

Pemerintah daerah  terkesan terlalu campur tangan, sehingga dianggap mengarahkan dukungan kepada calon tertentu. Ini jelas sudah tak bisa ditolerir.

Bahkan dari informasi yang layak dipercaya, pada Rakorsi kemarin terendus upaya dari salah satu tim pemenangan  bakal calon untuk menuntaskan Musprovlub pada agenda Rakorsi.

Penggiringan opini dilakukan agar pemilihan dilakukan setelah Rakorsi berakhir, di hari itu, di tempat itu. Ini jelas sangat tidak lucu.

Di sisi lain, isu permainan uang pun merebak. Ibarat bau, wujud tak tampak tapi  tercium. Saling tuduh sebagai pelaku terdengar, meski suaranya tidak begitu lantang.

Selamatkan Olahraga Sumbar

Nasib olahraga Sumatera Barat berada di tangan 71 Pengprov Cabor berikut 15 KONI kabupaten/Kota.

Jika mereka peduli dengan nasib olahraga Ranah Minang, tentu memilih sesuai hati nurani dan menolak praktik-praktik ilegal dalam pemilihan.

Jika induk organisasi olahraga dan cabang olahraga telah “bermain” dalam penentuan ketua umum KONI, maka tunggulah, kehancuran  olahraga Sumbar itu makin terasa.

Pemilik suara diharapkan tidak terjebak dengan kepentingan sesaat sehingga mengabaikan yang jauh lebih besar dan bermartabat.

Pilihlah calon ketua yang benar-benar memiliki bebet, bibit, bobot serta pengalaman dalam membidani olahraga.

Dua calon yang ada saat ini sejatinya sudah memenuhi syarat untuk dipilih. Mereka memiliki rekam jejak dan kemampuan.

Pemilik suara hanya tinggal mempertimbangkan siapa diantara mereka yang terbaik dan miliki kans yang lebih besar untuk merealisasikan visi misi yang dibawa.

Tentu,  dalam proses pembangunan olahraga tidak saja mengandalkan anggaran pemerintah, namun juga piawai mencari tambahan anggaran dari pihak ketiga.

Semoga calon dengan kriteria tersebut lahir di pemilihan Ketua KONI Sumbar nanti. Bolehkah berharap? (*)

Exit mobile version