Dibantai Dewa United 1-8, Rekor Kekalahan Tergila Semen Padang

Semen Padang mencatatkan rekor pada kompetisi BRI Liga-1 2024, bukan rekor terbaik, tapi terburuk dengan dipermalukan Dewa United di Stadion Haji Agus Salim dengan skor memalukan 1-8.

Semen Padang FC mencatatkan rekor terburuk sepanjang gelaran BRI Liga-1 dengan kekalahan telak, 1-8 atas Dewa United.
Semen Padang FC mencatatkan rekor terburuk sepanjang gelaran BRI Liga-1 dengan kekalahan telak, 1-8 atas Dewa United.

Padang – Memalukan. Ya, kata ini layak di terima tim urang awak Semen Padang FC. Kabau Sirah mungkin menjadi olok-olokan lantaran mencatatkan rekor terburuk selama perjalanan BRI Liga-1  2024-2025.

Kekalahan telak 1-8 dari Dewa United di lanjutan Liga-1, Jumat (25/10/2024) di kandang sendiri, Stadion Haji Agus Salom Padang menjadi alasannya.

Skor gila skuad asuhan Eduardo Almaida ini menjadi kekalahan terbesar kontestan Liga-1 sejauh ini.

Keok dengan skor mencolok ini sempat pula dirasakan Semen Padang pada Liga-1 edisi 2017.

Kala itu, Semen Padang di cukur Madura United, enam gol tanpa balas.

Hanya saja yang menjadi pembeda, kala itu tim urang awak bertindak sebagai tim tamu.

Kembali pada hasil pertandingan menghadapi Dewa United, laga ini bisa dikatakan sebagai kekalahan tersebar Semen Padang sepanjang mengikuti kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Sejak awal memang terlihat Tim Bukik Karang Putih tidak pede dengan duel ini. Meski Madura United bukanlah tim elit, karena jelang menghadapi Semen Padang tim tamu berada di luar posisi 10 besar.

Sederet pemain kunci absen serta mengalami serangkaian kekalahan pada laga sebelumnya menjadi landasan. Meski bermain untuk kali pertama di hadapan pendukung sendiri.

Masalah Internal Tim

Buruknya materi pemain asing bukan saja menjadi alasan dari kekalahan atas Madura United.

Koordinasi permainan serta tidak adanya derigen di lini tengah makin memperburuk penampilan tim ini.

Hal yang tak kalah perlu mendapat perhatian jajaran tim pelatih adalah tidak adanya bentuk permainan serta rotasi menyerang dan bertahan yang tidak sinkron.

Lini tengah tidak bisa memutuskan serangan lawan. Sementara barisan belakang sangat rapuh menerima ancaman. Hal yang sama juga berlaku di sektor depan.

Lini serang Kabau Sirah terkesan “mandul” buntut kurangnya suplai bola ke areal sentral lawan.

Menarik tentunya menunggu evaluasi tim yang dilakukan jajaran tim pelatih. Jika tidak segera bangkit, prediksi sebagainya besar kalangan yang menganggap Semen Padang cuma numpang lewat di Liga-1 akan menjadi kenyataan.

Sebaliknya, jika tim pelatih dan manajemen kompak melakukan pembenahan, bukan tak mungkin pada laga sisa Semen Padang bisa ke luar dari zona degradasi dan bersaing di papan tengah. (*)

Exit mobile version