Wisuda IX UIN Bukittinggi 2025: Bukan Sekadar Prosesi, Ini Gerakan Intelektual

Para guru besar UIN Bukittinggi berfoto bersama menjelang wisuda IX 2025
Para guru besar UIN Bukittinggi berfoto bersama menjelang wisuda IX 2025

 

Bukittinggi – Wisuda ke-IX tahun 2025 di UIN Bukittinggi bukan sekadar seremoni akademik rutin.

Sebanyak 627 wisudawan dari lima fakultas resmi dilepas ke tengah masyarakat.

Di Fakultas Syariah terdapat 70 lulusan, FTIK menyumbang 173 lulusan, FEBI mencetak 297 lulusan, dan FUAD mencatatkan 77 lulusan.

Sementara Program Pascasarjana meluluskan 10 orang dari jenjang magister dan doktoral.

Mereka bukan hanya sebagai pemegang ijazah, tetapi sebagai duta intelektual dari kampus yang menjelma menjadi poros pendidikan Islam unggul di Indonesia.

 

Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menegaskan angka 627 bukanlah sekadar statistik.

Di baliknya tersimpan narasi panjang perjuangan akademik dan spiritual yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesiaan.

“Ini bukan akhir dari perjalanan, tapi awal dari pengabdian,” ujar Silfia Hanani.

“Kami tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga agen perubahan sosial yang berlandaskan ilmu dan nilai.”

Sejak meraih akreditas unggul dari BAN-PT pada 2024, UIN Bukittinggi semakin meneguhkan reputasinya sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang membangun visi masa depan.

Upaya ini bukan sekadar pepesan kosong. UIN Bukittinggi memiliki tenaga yang cukup untuk mencapai reputasi itu.

UIN Bukittinggi memiliki 204 dosen PNS, 77 tenaga kependidikan, dan 12 guru besar aktif yang pakar di bidang filsafat Islam, hukum syariah, ekonomi Islam, pendidikan, hingga sosial agama.

Para guru besar ini adalah Prof. Ridha Ahida, M.Hum, Prof. Silfia Hanani, M,Si, Prof. Syafwan Rozi, M.Ag, Prof. Zulfani Sesmiarni, M.Pd, Prof. Ismail, M.Ag, Prof. Nunu Burhanuddin, M.Ag, Prof, Busyro, M.Ag, Prof. Ayari, M.Si, Prof. Hesi Eka Putri, Prof. Iiz Muddin, M.Ag, Prog. Novi Hendri, M.Ag dan Prof, Nofiardi, M.Ag.

Mereka adalah penjaga bara ilmu, penutur hikmah, sekaligus penggerak peradaban di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Di tangan merekalah, komitmen UIN Bukittinggi terhadap pendidikan yang relevan, membumi, dan bernilai terus menyala dan mengakar.

Dari Bukittinggi untuk Dunia: Publikasi, Kolaborasi, dan Internasionalisasi

Selain mencetak lulusan terbaik, UIN Bukittinggi tak melupakan cita-cita luhur.

Silfia Hanani menekankan kampus yang menggambleng nama Sjech M. Djamil Djambek ini akan menjadi pelopor publikasi ilmiah.

Secara bertahap, UIN Bukittinggi sudah membuktikan diri dengan 27 jurnal ilmiah, beberapa di antaranya sudah terindeks SINTA 2 hingga 4.

Selain itu, ada ratusan buku dari program KKN yang sudah terbit.

Kegiatan ini mencerminkan bahwa UIN Bukittinggi sudah menjadikan tulis-menulis sebagai tradisi dan kebudayaan.

Tak berhenti di situ, para dosen dan mahasiswa juga mulai menjejakkan kaki ke pentas global.

Tak hanya publikasi internasional, para dosen juga rajin mengikuti visiting lecturer, riset kolaboratif lintas negara, hingga pengabdian masyarakat tingkat dunia.

Semua ini menjadi amunisi dalam memperluas daya jangkau dan pengaruh sebagai kampus Islam berskala internasional.

Di sisi lain, kampus di jantung Sumatera Barat ini juga ikut merawat alam.

Gerakan ekoteologi yang dijalankan melalui penanaman sejuta pohon matoa pada Hari Bumi Internasional, penebaran bibit ikan di saluran kampus, serta kegiatan gotong royong rutin bersama mahasiswa, memperlihatkan bahwa kampus ini memiliki visi lingkungan yang menyatu dengan nilai-nilai spiritualitas Islam.

Lebih jauh, UIN Bukittinggi kini tengah merintis sistem pengelolaan sampah mandiri, sebuah gagasan besar yang menunjukkan tanggung jawab terhadap bumi.

Baca Juga: Amran Amir: Program Ketahanan Pangan Perlu Dukungan Semua Pihak

Segala yang sudah dilakukan memicu minat mahasiswa baru untuk kuliah di UIN Bukittinggi.

Pada 2025 sudah lebih dari 9.000 pendaftar melalui jalur SPAN-PTKIN dan lebih dari 4.000 siswa yang direkomendasikan lolos.

UIN Bukittinggi sudah menjadi magnet bagi calon mahasiswa, tak hanya di Sumbar, tetapi hampir seluruh provinsi di Indonesia dan luar negeri.

Program-program studi unggulan seperti Statistik, Matematika, Teknik Komputer, dan Bisnis Digital pun menjadi wajah baru dari diversifikasi keilmuan yang modern dan adaptif.

Tak hanya itu, UIN Bukittinggi juga menyediakan beragam beasiswa, dari KIP, Bank Indonesia, Baznas, hingga beasiswa daerah dan instansi

Beasiswa ini tidak hanya membantu dari sisi finansial, tapi juga mendorong lahirnya mahasiswa-mahasiswa mandiri dan berprestasi.

Demi mendapatkan lulusan berkualitas, UIN Bukittinggi merancang program khusus dengan menjaring alumni yang tersebar di berbagai bidang seperti penngusaha, hakim, anggota dewan, hingga kepala daerah.

Selain itu, lanjut Silfia Hanani,  ada Forum Wali Mahasiswa (FWM).

Forum ini menjadi simpul relasi soolid antara kampus, orang tua, dan mahasiswa dalam satu gerakan kolaboratif.

UIN Bukittinggi tak bisa menunggu gelombang perubahan.

Silfia Hanani memastikan kampus yang dipimpinnya menjadi gelombang perubahan itu sendiri.

Wisuda kali ini bukan hanya seremoni kelulusan, tetapi penegasan bahwa UIN Bukittiinggi bukan lagi kampus yang hanya mencetak sarjana, melainkan membentuk paradaban.

“Dari kampus kecil di Jantung Sumatera Barat, kami berbicara untuk Indonesia dan dunia.”

“Dengan kerja keras semua pihak, kami terus tumbuh sebagai mercusuar keilmuan Islam modern yang inklusif, solutif, dan mendunia,”  tutup Silfia Hanani.

Exit mobile version