Sialang Gaung Baralek Gadang, Ridwan Syarif Dinobatkan jadi Dt Maha Majo Kayo

Nagari Sialang Gaung, Kecamatan Koto Baru, baralek gadang. Ridwan Syarif di nobatkan menjadi Datuak Majo Kayo, Suku Chaniago. Prosesi penobatan pun berlangsung meriah, dengan arak-arakan bundo kanduang yang disambut dengan tari gelombang.

Sialang Gaung Baralek Gadang, Ridwan Syarif Dinobatkan jadi Dt Maha Majo Kayow
Sialang Gaung Baralek Gadang, Ridwan Syarif Dinobatkan jadi Dt Maha Majo Kayow

Dharmasraya – Langit pun tampak menyambut bahagia, dengan turunnya hujan menghilangkan debu, akibat satu minggu lebih cuaca panas yang membuat tanah di nagari itu mulai mengering. Walaupun sesaat, namun hujan itu memekarkan kembali bunga yang sudah mulai layu.

Beban berat pun berada di pundak Ridwan Syarif Dt Majo Kayo, yang dilewakan menyandang gelar Datuak menggantikan
Ali Usman yang sebelumnya menyandang gelar tersebut,

Dimana, segala segala urusan dalam nagari di bawah payung chaniago, akan bermuara pada datuak, selaku pengambil keputusan.

Dengan mengenakan baju kebesaran Dt Majo Kayo, dengan “tungkek” ditanganya, Ridwan Syarif diarak menuju singgasana. Sehingga, kemeriahan alek suku di nagari itu, tampak jelas dengan kehadiran para petinggi suku yang ada di Nagari tersebut.

Hingga kini, penobatan datuk memang masih menjadi perhelatan penting di seantero daratan Sumatra Barat. Maka tak heran jika pemberian gelar Datuk berlangsung lebih megah dan meriah.

Genderang dan talempong terus dibunyikan di sepanjang jalan desa mengiringi perakan kolosal yang dimulai dari rumah kakaknya menuju rumah adik perempuannya.

Ditengah, krisis adat yang mulai memudar, Ridwan syarif Dt Maha Rajo Kayo, yang berlatar belakang sarjana agama itu, akan membawa krisis itu kembali pada “Adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah”.

Memasuki tengah hari, datuk pun berpindah ke medan nan balinduang atau tempat tertutup yang hanya bisa dimasuki kaum lelaki anggota sesepuh masyarakat. Di lokasi tersebut telah tersaji rendang datuk. Dalam upacara yang disebut makan bajamba itu, tangan sang datuk tak boleh menyentuh mulut untuk menjaga kebersihan hidangan. Proses ini melambangkan toleransi dan kebijaksanaan datuk.

“Kendati hari ini serbuan berbagai pengaruh yang dapat mendegradasi adat yang bersandikan syara”, syara” bersandikan kitabullah harus terus menerus kita dengung dan kampanyekan tanpa lelah terhadap cucu kemanakan,” kata Ridwan syarif Dt Maha Rajo Kayo, Minggu (29/12/24).

Ninik mamak atau penghulu memang benteng pertahanan kaum. Tapi apalah daya, lanjutnya, seorang penghulu bila usaha itu tidak di dukung oleh cucu kemenakan.

“Besarnya seorang penghulu karena “gadang di Lambuak, tinggi dianjuang” oleh cucu kemenakan,” ucapnya.

Ia berharap, mari awali langkah dengan niat baik, bangun kerjasama, bangun persamaan pandangan, lalu perkecil perbedaan sesama.(*)

Exit mobile version