Akhir masa jabatan Ketua KONI Sumbar sudah di depan mata. Tinggal beberapa bulan lagi. Pertengahan tahun ini sudah ada ketua yang baru. Sebagai pengganti.
Berkaca dari pengalaman terdahulu. Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Sumbar kerap menghadirkan ironi.
Kubu yang kalah, kekal jadi musuh. Empat tahun lamanya. Sementara yang menang tak tenang. Terasa dikekang.
Biasanya, jelang pemilihan, masing-masing calon mengklaim di dukung kepala daerah. Dukungan sudah seperti golden tiket saja.
Dari sejarah pemilihan yang sudah-sudah, nyaris tak ada klaim dukungan dari kepala daerah. Gubernur berada di tengah-tengah. Sebagai penengah.
Tapi, masing-masing calon tetap saja mengaku dapat dukungan kepala daerah. Hal itu mereka anggap sah dan lumrah.
Pada pemilihan tahun ini cara-cara seperti itu tetap ada. Beberapa calon tetap menjual nama junjungannya. Seakan sudah mendapat restu, sudah pasti jadi KONI Sumbar satu. Ikan lele sambal terasi, jangan Le, sudah basi.
Itu ke itu saja
Pemilihan ketua KONI Sumbar dari masa ke masa masalahnya itu ke itu saja. Calon yang kalah tak pernah mengaku kalah. Kerap mencari masalah. Apa sajalah.
Sementara yang menang mengabaikan kubu yang kalah. Tidak merangkul mereka demi eksistensi olahraga daerah.
Hal-hal seperti ini selama ini terjadi. Sehingga semangat membangun olahraga hanya sekadar basa-basi.
Kunci keberhasilan pembinaan olahraga adalah kolaborasi. Yang kalah membuka diri. Tak diajak bergabung, koreksilah diri.
Calon yang menang jangan mengabaikan yang berseberangan. Ajak bergabung dan saling mendukung.
Agar tak terus menjadi masalah, beriya-iya sajalah. Para kandidat calon bersatu. Bagi-bagi saja posisi dan porsi. Tentu berdasarkan kapasitas serta kompetensi.
Berkolaborasi adalah pilihan. Demi membangun olahraga dengan semangat kebersamaan.
Muka Lama
Sejauh ini tercatat beberapa nama bakal maju pada pemilihan Ketua KONI Sumbar. Rata-rata mereka muka lama. Dulu sempat ingin maju, tapi alam tak restu.
Ada dua sampai tiga calon. Tahun ini kontestasi tanpa inkumben. Ronny Pahlawan mungkin tak maju. Beliau terlihat lelah dengan dinamika yang ada.
Otomatis, masing-masing calon berada di garis star yang sama. Dimulai dari nol ya, itu kata petugas Pertamina.
Tak ada yang dijagokan. Peluang sama. Tinggal bagaimana kedekatan dengan cabor maupun KONI Kabupaten/kota.
Pertanyaannya, apakah sudah berbuat untuk olahraga? Sejauh mana pengalaman dan rekam jejak mereka?
Dua hal ini hendaknya menjadi acuan. Tak hanya jago bicara dan mengandalkan rayuan.
Pemenang yang duduk di singgasana adalah yang sanggup meyakinkan pemilik suara. Tentunya bukan yang mengaku dekat dengan sang penguasa.
Berapa calon yang maju tentu tak jadi masalah. Bahkan makin menambah semarak pesta demokrasi olahraga.
Namun, sebelum pemilihan, semua calon masuklah ke “bilik kecil”. Tentukan saja siapa dan jabatan apa. Semua akan jadi pemenang.
Hindari pertikaian saat dan pasca pemilihan. Mari memutus sejarah buruk Musorprov yang selalu mengundang pertikaian. Kolaborasi jadi jalan terbaik! (*)
Penulis adalah pemerhati olahraga dan wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar.
