Menguak Kembali Sejarah Kampung Pisang Rebus

Yahya.

Orang yang hebat itu adalah mereka yang selalu dan kenal dengan banyak sejarah negeri dan bangsanya. Mengetahui sejarah suatu negeri merupakan hal sangat penting agar memahami keadaan dan situasi negerinya dengan jelas.

Ya, sebut saja kampung bernama Pisang Rebus yang terletak di Desa Sitiung, Kecamatan Sitiung yang kini dengan otonomi daerah, kembali ke nagari untuk daerah Sumatera Barat, maka bernama, Nagari Sitiung.

Setiap nama suatu negeri tentu memiliki latar belakang, sehingga bertahan lama dan sukar untuk diganti dengan nama lain.

Mengapungkan kembali  sejarah  kampung  Pisang Rebus ini sangat penting sebagai suatu kekayaan budaya di kenagarian Sitiung.

Yang selanjutnya di harapkan menambah khazanah budaya di negeri Sitiung Kabupaten Dharmasraya ini.

Pada awalnya suatu tempat yang rimba belantara yang terbentang di jalan Sumatera sebelum adanya jalan nasional sekarang ini.

Pada 1950-an, satu keluarga dari Negeri Simawang Kecamatan Rambatan Tanah Datar menetap dan membuat rumah di pendakian perbatasan antara kampung Koto Tuo, dengan Pisang Rebus sekarang.

Di mana, insan manusia yang menghuni rumah dari kayu itu yakni, sepasang suami istri Amik Kotik Bonsu dan Cinto Manih.

Kedua pasangan suami istri ini di karuniai keturunan 3 putri dan satu putra itu, yakni, Rasinah (almarhumah) anak tertua, ida ( almarhumah berada di Simawang,) Nurmi serta Amril.

Keluarga Amik Kotik Bonsu yang kesehariannya sebagai petani sambil jualan nasi dan pisang rebus.

Dengan masakan yang terkenal lezat serta abuih pisangnya yang manis, setiap  pedagang dan orang yang melintas selalu sempatkan diri mampir istirahat untuk makan dan menikmati makan pisang rebus.

Seiring dengan nama menu spesifik pisang abuih yang semakin di kenal serta satu-satunya warung kecil dengan masakan kampuang dan tempat bertemunya para toke karet dari berbagai daerah.

Seiring dengan berjalanya waktu serta nama warung kecil yang selalu menyediakan menu pisang rebus, membuat nama menu itu semakin melekat di bibir para pengunjung.

Dinamakan Nama Dusun

Hal ini lantaran nama warungnya yang mudah di ingat dan di ucapkan, sehingga diabadikan secara nasional nama tersebut menjadi Dusun Pisang Rebus.

Di tambah lagi, rasa pisang rebus nya yang khas dengan warna merah tua, sehingga bisa di nikmati sampai dengan kulitnya.

Yang pengabadian nama Pisang Rebus tersebut adalahAmik Kotik Bonsu, yang pada akhirnya di akui secara resmi dan nama Pisang Rebus itu telah tercatat di data nama negeri secara nasional.

Pisang Rebus ini mulai didatangi oleh orang dari daerah lain
khusunya daerah Jawa.  Saudara-saudara yang datang tersebut merupakan suku Jawa yang berada di Dusun Tinggi Kiliran Jao pada tahun 1966.

Pelaku sejarah, Nurmi, yang kini masih tinggal di kampung Pisang Rebus, anak dari Alm, Amik Kotik Bonsu.

“Peristiwa pindahnya mereka dilatarbelakangi oleh kesulitan ekonomi,” ujar  Nurmi (65), salah seorang putri dari Amik Kotik Bonsu, pendiri Kampung Pisang Rebus saat berbincang-bincang dengan Sabtu (5/4/2025).

“Kalau sudah jam 2 siang, urang ndak (orang tidak) barani melintasi jalan lamo ko lai (lama ini lagi).Sebab, harimau jo singo (dan singa) menguasai jalan.

“Jadi namuah indak namuah, orang yang melewati jalan ini. Mereka lalu singgah di keddi pisang rebus. mangko banamo (maka diberikan nama) lah Kampuang Pisang Rebus,” terangnya.

Ia menyebutkan, kesulitan ekonomi mereka disebabkan oleh putusnya kiriman sembako dan biaya dari Jakarta pada masa Presiden Soekarno sebagai akibat dari pecahnya gerakan G30SPKI.

Penduduk Dusun Tinggi tersebut lalu di landa kemiskinan. Mereka
mulai mencari tempat baru untuk mengadu nasib, seperti ke daerah Pisang Rebus dan Teluk Kuantan.

Salah seorang putri dari Amik Kotik Bonsu, pendiri kampung Pisang Rebus, Nurmi (65) saat berbincang-bincang mengatakan, pada awalnya Dusun pisang Rebus itu hanya di huni oleh 8 keluarga.

Namun, sekarang mereka sudah
tiada sehingga yang sempat bertemu dengan mereka mengenal sejarah
Pisang Rebus adalah, Sya’ban yang kini berusia berkisaran 86 tahun.

Pada masa perjalanan kampung Pisang Rebus,  ninik mamak dengan para pemangku adat serta pemangku kepentingan menyerahkan tanah kepada pemerintah untuk keperluan transmigrasi tanpa ganti rugi sesuai surat keputusan tahun 1961.

Tanah ini seluas lebih kurang 1,5 kilometer persegi dengan batas arah Selatan sampai Tanah Kosong Padang Kerbau.

Ke utara Sungai Batang Hari, ke Timur Kebun Karet dan Sawah Lubuak Cupak dan arah Barat kebun Karet milik masyarakat Koto Tuo.

Nurmi yang memiliki dua putri itu mengatakan, bukti penyerahan tanah 1,5 Kilometer persegi yang ditanda tangani oleh pemerintahan Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung yang di wakili Sekretaris, Amir Mahmud dan di serahkan pada pemerintah provinsi tersebut.

Surat-suratnya berada pada Basyir St. Bandaro (almarhum), serta Binu ( Alm) salah seorang anggota polisi yang mewakili pihak kepolisian dan satu surat berada di Polsek Pulau Punjung.

Makin Padat

Dengan berjalanya waktu, Kampung Pisang Rebus semakin padat. Kini kampung subur itu  di huni oleh suku Jawa 95 %, suku Batak 0,1 % suku Minang 4,9% dengan bahasa harian, bahasa Indonesia serta bahasa Jawa.

“Semua ini  berkat kegigihan Basir St Mandaro, menantu dari Amik Kotik Bonsu,” kata salah seorang pengabdi sejarah  kampung Pisang Rebus, Sa’ban.

Pria tua 86 tahun saksi hidup sejarah berdirinya kampung yang berbatasan dengan Kampung Koto Tuo, Sungai Lansek Nagari Siguntur itu, tak henti-henti berucap terimakasih atas pengorbanan Almarhum Amik Kotik Bonsu serta menantunya Basir St Mandaro.

“Kita tentu berharap agar para generasi tidak melupakan sejarah kampungnya sendiri,” pintanya.

Hal yang sama juga di katakan oleh Rabial, putra sulung dari pasangan Basir St Mandaro dan Rasinah. Dirinya mengemukakan, meski ada upaya salah seorang kepala dusun kala itu, mengganti nama kampung Pisang Rebus dengan Kampung Baru oleh Almarhum Panut.

Saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun, namun Kampung Baru secara alami tidak dapat dipopulerkan serta tetap bertahan dengan nama Pisang Rebus.

Sulitnya ekonomi masyarakat pada waktu itu, berimbas pada pendidikan generasi.

Di mana, pendidikan masyarkat waktu itu umumnya sangat rendah, namun memasuki tahun 1999, mulai satu persatu ada masyarakat tersebut berpendidikan sarjana.

“Dengan tokoh yang menjadi tumpuan masyarakat Pisang Rebus waktu itu, Basyir Sutan Bandaro yang merupakan minantu dari Amik Kotik Bonsu yang mempersunting putrinya bernama Rasinah, kata pria kelahiran 70-an yang kini menjabat kepala sekolah SD Al Azhar Padang.

Kini, dengan kemajuan perkembangan penduduk serta syarat pembangunan dan pengembangan nagari, Nagari Sitiung, dengan usulan masyarakatnya, lakukan pemekaran dengan nama Padang Sidondang tanpa mengesampingkan nama kampung Pisang Rebus,

Fakta sejarah nama negeri ini menjadi khazanah budaya bagi Kenagarian
Sitiung yang mesti dibudayakan.

Sebagai urang Minang yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, bak pepatah kuno,” Kato partamo, kato nan dituruti kato kudian kato bacari.

Ungkapan ini perlu dipertahankan, sehingga aneka budaya bangsa yang ada di daerah menjadi warna pemersatu.

Kini, Kampung Pisang Rebus yang dulunya lengang, saat ini dihuni sedikitnya 500 kepala Keluarga.

Dengan harapan, bergabungnya berbagai budaya dalam suatu nagari akan memperkaya khazanah bangsa yang berbudaya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bukan sebaliknya.

Dari pasangan BasyirSutan Bandaro dan Rasinah ini, di karunia anak, Rabial, Bukhari, Rosmanidar, Ibnu Syahid, Yahya serta Ibrahim, dengan tiga orang anak tiri yakni, Irnandi, Sumarman dan Martunus yang hingga kini beberapa diantaranya masih menetap di Jorong Pisang Rebus Nagari Sitiung. (*)

Penulis Yahya

Wartawan Muda

Exit mobile version