Jemput Bola Hingga Rela “Mengemis”, Demi Membangun Daerah

Bupati Annisa Suci Ramadhani.

Oleh: Yahya
Wartawan Madya

Di tengah keterbatasan anggaran daerah, banyak kepala daerah memilih berjalan apa adanya. Membiarkan pembangunan bergerak lambat. Namun tidak dengan sosok Bupati Annisa Suci Ramadhani ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, ia dikenal sebagai pemimpin yang tak segan “menjemput bola” ke pemerintah pusat, memperjuangkan alokasi dana untuk pembangunan daerahnya. Perjuangan yang sering kali memakan waktu, tenaga, bahkan menuntut keteguhan mental.

Setiap bulan, hampir pasti ada agenda perjalanan dinas ke Jakarta. Bukan sekadar menghadiri rapat atau seremoni, tetapi benar-benar melakukan pendekatan, presentasi, dan lobi ke berbagai kementerian. Mulai dari Kementerian PUPR, Kementerian Desa, semuanya pernah didatanginya berulang kali.

“Kalau kita tidak datang sendiri, tidak ada yang menyuarakan kebutuhan daerah kita,” kata bupati yang akrab disapa Caca itu, Senin (01/12/25), lalu.

Kisah paling mencolok adalah perjuangannya mengajukan pembangunan jalan dan perjuangan pembangunan sekolah rakyat yang bernilai Rp200 milyar.

Alhasil, daerahnya mendapatkan alokasi dana infrastruktur dan pembangunan sekolah rakyat yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diterima sebelumnya.

Demi membangun daerah dan perjuangan cita-cita ayahanda nya H.Marlon sebagai bupati 2004-2009 dalam membangun Dharmasraya, Caca “Rela Mengemis” demi pembangunan Bumi Ranah Cati Nan Tigo.

Hal serupa terjadi pada program irigasi, renovasi sekolah, hingga bantuan rumah layak huni. Tidak sedikit program yang lolos berkat kegigihannya menjelaskan kondisi riil di lapangan.

Upayanya yang tidak kenal lelah perlahan membuahkan hasil. Banyak pejabat di kementerian mulai mengenal dan menghargai komitmennya. Reputasinya sebagai bupati yang serius dan kooperatif membuat proses koordinasi semakin mudah.

Bahkan beberapa program kini diberikan tanpa ia harus mengajukan secara formal, karena pusat melihat sendiri keseriusan daerahnya dalam melaksanakan setiap bantuan dengan baik.

Delapan Daerah Irigasi (DI) dengan nilai Rp25.559.991.000 tersebut meliputi DI Aurduri Calau dan DI Batang Asahan atau Sei Patapahan di Nagari Gunung Selasih, DI Timbulun Buyieh serta DI Batang Rambah di Nagari Banai.

Lalu pembangunan DI Lubuk Talaok, DI Sarana Baru dan DI Sei Ambacang di Nagari Taratak Tinggi, serta DI Batanghari. Semuanya diproyeksikan menjadi penopang utama pertanian masyarakat nagari.

“Alhamdulillah, usulan yang kita perjuangkan sejak awal kini sudah mendapat kepastian dari Kementerian PU. Delapan proyek Daerah Irigasi ini adalah oleh-oleh nyata untuk Dharmasraya, khususnya bagi para petani,” ujar putri kandung Bupati 2004-2009 H.Marlon itu.

Yang membuatnya semakin dihargai masyarakat adalah motivasinya yang jelas, bukan pencitraan, melainkan pembangunan nyata. Ia tidak ragu mengunggah aktivitas lobi dan pertemuannya, bukan untuk pamer, tetapi sebagai bentuk transparansi kepada publik.

“Kita harus berani memperjuangkan hak masyarakat. Kalau daerah lain bisa dapat, kita juga harus bisa,” katanya penuh semangat.

Pembangunan itu bukan hadiah, melainkan hasil dari kegigihan seorang pemimpin yang memilih bekerja dari pada mengeluh.

Kisah bupati ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya mengandalkan anggaran daerah, tetapi juga keberanian menembus birokrasi pusat. Dan selama ia terus mengetuk pintu, peluang untuk membawa perubahan selalu ada.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *