Jakarta, posinfo.co – Ketegangan antara Partai NasDem dan Demokrat semakin memanas. Perang dingin kedua Parpol ini menjadi masalah serius dan mengancam eksistensi Anies Baswedan untuk Nyapres.
Hal ini tak terlepas dari ketegangan dalam menentukan Cawapres Anies Baswedan. Imbasnya, kekompakan internal Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) kini makin merenggang.
Anies selaku capres KPP kini menjalani jalan yang terjal untuk bisa menyambut Pilpres 2024 sebab koalisinya malah berseteru secara internal.
Sebelumnya, Bendahara Umum DPP Partai NasDem Ahmad Sahroni sempat menuding bahwa Partai Demokrat ngotot agar ketua umum mereka, Agus Harimurti Yudhoyono harus mendampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024.
Saling tuding dan saling bantah pun tak bisa terelakan. Hal ini terkait statmen kedua kubu.
Demokrat Membantah
Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief membantah tudingan keras Ahmad Syahroni tersebut.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memaksakan AHY sebagai cawapres Anies Baswedan.
Andi juga menantang semua yang membuat tudingan tersebut untuk bertanya langsung ke Anies, Ketua Umum Partai Nasdem dan Ketua Umum PKS.
Baca Juga: Siap-siap, 16 Juni Deklarasi Cawapres Anies Baswedan
Andi mengingatkan bahwa Partai Demokrat setuju untuk menyerahkan keputusan cawapres kepada capres sesuai dengan Piagam Koalisi.
PKS Sebagai Penengah
Sekretaris Jenderal PKS Aboe Bakar Al Habsy menyatakan tidak ada istilah paksaan dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan yang di gawangi PKS, Partai NasDem, dan Partai Demokrat ini.
“Tidak ada yang paksa-memaksa. Mana ada dalam koalisi paksa-memaksa. Yang ada mengusulkan,” kata Aboe di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 9 Juni 2023 lalu.
Ia menjelaskan, proses penentuan Cawapres bagi Anies ini di bicarakan dalam suasana yang demokratis.
Ia menyebut pendamping Anies akan dilihat dari daya dukung suaranya maupun kemampuan lainnya.
“Sabar saja, nanti dalam pertemuan terakhir akan muncul namanya. Sudah dikantongi sebenernya, tinggal keluar saja,” pungkasnya. (010)
