Painan – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menggelar simulasi gempa bumi berkekuatan 9,2 Skala Richter yang berpotensi tsunami, Rabu (5/11). Kegiatan berskala internasional ini dilaksanakan serentak di berbagai negara dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Tsunami Tingkat Dunia tahun 2025.
Simulasi tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi bencana alam, terutama karena Pesisir Selatan termasuk salah satu wilayah dengan potensi gempa dan tsunami tertinggi di Sumatera Barat.
Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, membuka kegiatan tersebut secara resmi di Shelter Evakuasi Rawang, Kecamatan IV Jurai. Ia hadir bersama unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, serta berbagai lembaga dan organisasi kebencanaan.
Dalam sambutannya, Bupati Hendrajoni menegaskan bahwa kegiatan simulasi ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Pesisir Selatan dalam memperkuat sistem tanggap darurat dan membangun budaya siaga bencana di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini sangat penting untuk membangun sinergi dan komitmen yang kuat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami. Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi,” ujar Hendrajoni.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan terhadap bencana tidak dapat hanya disandarkan pada pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat, dunia pendidikan, hingga pelaku usaha agar mitigasi bencana dapat berjalan menyeluruh dan berkesinambungan.
“Tidak ada yang tahu kapan bencana akan datang. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir,” tegasnya.
Simulasi ini melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, RSUD, perangkat kecamatan dan nagari, serta kelompok siaga bencana (KSB) dari berbagai wilayah di Pesisir Selatan. Peserta menjalankan skenario gempa besar yang diikuti dengan gelombang tsunami, di mana warga diarahkan melakukan evakuasi ke titik aman sesuai standar prosedur tanggap darurat.
Selain latihan lapangan, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap kesiapan fasilitas penunjang seperti shelter evakuasi, jalur penyelamatan, serta sistem komunikasi darurat yang dimiliki oleh Pemkab Pessel.
Penjabat Kepala Pelaksana BPBD Pesisir Selatan, Mulyandri, ST, MM, Datuak Rajo Intan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program nasional yang juga didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Melalui simulasi ini, masyarakat diharapkan mampu memahami langkah-langkah penyelamatan diri dengan benar, mengenali tanda-tanda bahaya, serta mengetahui jalur evakuasi yang aman,” jelas Mulyandri.
Ia menegaskan, BPBD Pessel akan terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi kebencanaan ke sekolah-sekolah, nagari, dan kelompok masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun daerah yang tangguh dan adaptif terhadap bencana.
Dengan pelaksanaan simulasi gempa dan tsunami ini, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan berharap masyarakat semakin sadar pentingnya kesiapsiagaan serta mampu bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi bencana.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Melalui latihan seperti ini, kita membangun budaya tangguh bencana yang menjadi pondasi kuat bagi masa depan Pesisir Selatan,” tutup Bupati Hendrajoni. (*)
