Posinfo.co – Tidak cukup pintar mengajar. Dosen UIN Bukittinggi harus menjalin jejaring, membangun kolaborasi lintas sektor, dan hadir dalam pusaran perubahan sosial.
Inilah semangat yang bergaung dalam kegiatan Pembinaan Akademik Dosen di UIN Bukittinggi.
Bertempat di Aula Rektorat, Staf Ahli Menteri Agama bidang Hubungan Kelembagaan Keagamaan, Iswandi Syahputra, menekankan pentingnya hal ini.
Dia mengatakan kelembagaan PTKIN harus memiliki pendekatan kolaboratif berbasis Model Pentahelix.
Apa itu Pentahelix?
Model ini menekankan kerja sama antara lima unsur strategis:
- Akademisi (Perguruan Tinggi)
- Pemerintah
- Dunia Usaha
- Komunitas
- Media
“Jika PTKIN ingin berdaya saing, maka ia tidak bisa bergerak sendiri. Kita butuh sinergi dan jejaring luas lintas sektor,” ujar Prof. Iswandi.
Ia menambahkan, dosen adalah penggerak utama dari kolaborasi ini.
Baca Juga: Dharmasraya Lokasi Aman Transaksi Narkoba?
Tidak hanya mengajar dan meneliti, dosen juga harus aktif membangun relasi dengan masyarakat dan berbicara di ruang publik.
Selain itu, dosen harus mampu memanfaatkan media untuk menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan moderat.
Rektor UIN Bukittinggi, Silfia Hanani, menegaskan kegiatan ini bagian dari roadmap institusi untuk membangun kampus yang unggul dan inklusif.
“Dosen adalah jantung akademik. Mereka harus siap bukan hanya untuk berpikir, tapi juga bertindak, berjejaring, dan berkolaborasi dengan seluruh unsur masyarakat.”
Baca Juga: Kunjungan Alumni UKM Perkuat Sinergi Internasional UIN Bukittinggi
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh Rektor dan wakilnya, para dosen lintas fakultas turut menyimak diskusi ini.
Diskusi berlangsung interaktif dengan suguhan refleksi akademik dan komitmen menjadikan dosen sebagai katalis perubahan kelembagaan.
Dengan mengusung semangat Pentahelix, UIN Bukittinggi tidak hanya ingin menjadi pusat ilmu, tapi juga simpul kolaborasi antar-elemen bangsa.
Karena dosen bukan sekadar pengajar, mereka adalah diplomat ilmu dan penggerak perubahan sosial.




