Menilik Prestasi “Pandeka” Minang di PON Beladiri

Arief Kamil, Jurnalis dan Pemerhati Olahraga

Pekan Olahraga Nasional (PON) Beladiri saat ini tengah berlangsung di Kudus, Jawa Tengah. Kegiatan dibentang mulai 12 hingga 26 Oktober mendatang.

Kabar gembiranya, untuk sementara, hingga Rabu (22/10) siang, Sumatera Barat berada di undakan ke-7 dengan koleksi 7 melasi emas, 9 perak dan 9 keping medali perunggu, dengan total 25 medali. Medali bergengsi ini berasal dari Gulat, Sambo, Kempo dan Pencak Silat.

Capaian ini cukup baik. Tuah Sakato untuk sementara waktu menjadi yang terbaik dari 10 provinsi di Sumatera. Posisinya di atas tuan rumah PON 2025, Sumatera Utara dan Aceh.

Kita tahu, PON Beladiri 2025 menjadi pelaksanaan kali pertama sepanjang sejarah. Pelaksanaannya pas satu tahun setelah PON Aceh-Sumut. Masih hangat-hangatnya.

Nah yang menarik, Sumatera Barat bisa dikatakan moncer pada multi event yang baru pertama kali di gelar.

Jauh sebelumnya, PON Remaja 2014 yang juga menjadi multi event baru, Sumbar sukses membukukan sejarah. Berada di posisi kelima nasional atau peringkat pertama di luar Pulau Jawa dengan raihan 25 medali. Rinciannya, 7 medali emas, 8 perak dan 10 medali perunggu.

Mengingatkan kembali, untuk posisi pertama hingga keempat ditempati  tuan rumah Jawa Timur di posisi pertama disusul DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bahkan saat itu, Sumatera Barat juga mendapat penghargaan sebagai kontingen terbaik. Tropinya ada di kantor KONI Sumbar.

Cinta dan Kepasrahan

Apa yang menarik dari capaian kontingen Sumbar di PON Beladiri tahun ini? Ada dua hal saja. Pertama, kecintaan atlet terhadap daerah. Kedua, kepasrahan.

Jika dikuliti, persiapan atlet menghadapi PON Beladiri sangat minim persiapan dan anggaran. Tidak ada TC khusus, persiapan minimalis dan seadanya dilakukan oleh masing-masing Cabor.

Di saat daerah lain fokus melakukan pembinaan, KONI Sumbar sibuk dengan transisi kepengurusan. Pengurus yang belum habis masanya dituntut mundur sehingga organisasi dijalankan oleh karateker.

Tidak hanya sampai di situ, satu bulan sebelum berangkat ke Kudus, atlet semakin terlantar, karena  pelaksanaan Musprovlub serta dinamikanya.

Pasca pemilihan dan dilantik, KONI Sumbar hanya memiliki waktu berapa hari untuk mempersiapkan keberangkatan atlet.

Beruntung duta-duta olahraga yang diberangkatkan ke Kudus, mayoritas turun di PON Aceh-Sumut. Meski tanpa try out, ujicoba ataupun TC mereka masih memberikan perlawanan, meski belum maksimal.

Kecintaan atlet kepada daerah tidak usah diragukan lagi. Mereka selalu mengharumkan panji-panti ranah Minang, kapan dan di mana saja. Sebagai atlet beladiri, raga mereka adalah Tuah Sakato. Jangan di tawar!

Namun, yang memiriskan hati, meski memiliki cinta yang tulus kepada daerah, mereka kerap mendapat pepesan kosong dari janji-janji dari pemimpin daerah.

Setahun yang lalu bahkan tahun-tahun sebelumnya, gubernur sempat mengatakan akan memberikan pekerjaan kepada atlet peraih medali emas PON, tapi kenyataannya sampai saat ini para atlet masih mempertanyakan janji manis itu. Bonus pun demikian, hampir satu tahun peraih medali PON menunggu pencairan.

Saat ini atlet-atlet Sumbar terkesan pasrah dengan kondisi yang ada. Mereka sudah muak dengan janji sebelum bertarung di arena, lantaran setelah alek berakhir, janji itu berlahan sirna.

Buah Pembinaan Pengurus Terdahulu

Capaian PON Beladiri 2025 tidak bisa dipisahkan dari pembinaan KONI Sumbar sebelumnya. Meski persiapan atlet jelang berangkat PON 2024 juga amburadul, karena kurangnya persiapan lantaran tersandung anggaran, namun mereka tetap saja buah dari pembinaan masa lalu.

Pengurus KONI Sumbar yang baru bisa dikatakan melanjutkan apa yang sudah berjalan.

Mereka belum melakukan program pembinaan, visi apalagi misi saat pencalonan. Untuk itu, jangan ujuk-ujuk mengatakan hasil PON Beladiri 2025 keberhasilan KONI Sumbar teranyar.

Capaian yang diraih saat ini juga ditunjang penuh oleh perjuangan atlet, pelatih hingga Pengprov Cabor di tengah minimnya perhatian pemerintah terhadap olahraga.

Idealnya, prestasi dan keberhasilan KONI di era ketua Umum Hamdanus baru bisa dilihat pada capaian PON 2028 mendatang di NTB/NTT.

Ada jeda waktu sekitar 3  tahun untuk melakukan pembinaan, terutama Cabor yang potensi medali emas, termasuk Cabor beladiri yang mengharumkan nama daerah di PON Beladiri tahun ini.

Semoga ke depan masa depan atlet semakin terjamin, karena ketua KONI yang baru mendapat restu dan didukung penuh oleh gubernur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *