Saat ini tercatat dua bakal calon (Balon) yang berpotensi maju pada Musyawarah Olahraga (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat.
Mereka adalah Tommy Irawan Sandra dan Hamdanus. Dua sosok ini bukan orang baru di kancah organisasi olahraga daerah.
Tommy merupakan Ketua KONI Kabupaten Pasaman. Sementara Hamdanus pernah menjabat sebagai salah satu Waketum di KONI Sumbar era Agus Suardi.
Jelang Musorprov yang menurut rencana di bentang bulan ini. Kedua calon sudah melakukan gerakan penggalangan dukungan. Baik dari KONI kota/kabupaten maupun pengurus provinsi (Pengprov) cabang olahraga.
Saling klaim pun tak dapat dihindarkan. Hamdanus mengaku mendapat dukungan 71 persen dari pemilik suara sah. Sayangnya, dari jumlah itu tidak dijelaskan berapa persentase masing-masing dukungan, baik KONI daerah maupun Pengprov Cabor.
Sementara kubu Tommy menyatakan, jika telah mengantongi 16 suara KONI Kabupaten dan 34 kantong suara dari cabang olahraga.
Sebagai informasi, syarat maju pada Musorprov KONI Sumbar adalah wajib mendapat dukungan 30 persen baik dari KONI kabupaten/kota dan Pengprov Cabor. Jika tidak mencukupi, Balon belum beruntung, silakan coba empat tahun lagi.
Harus dipahami, calon yang lolos pada tahapan seleksi pencalonan untuk maju pada Musorprov minimal harus mendapatkan 6 suara KONI daerah serta 30 persen Pengprov Cabor yang belum habis masa kepengurusannya.

Yang menjadi kunci lolos seleksi administrasi adalah mampunya para calon mengunci suara KONI kabupaten/kota. Bila bisa menguasai seluruhnya serta mengamankan minimal 30 persen suara Pengprov Cabor otomatis menang secara aklamasi.
Sejatinya, klaim masing-masing calon tidak menggambarkan hasil akhir pemilihan. Statmen dukungan yang disampaikan merupakan bagian dari strategi mendapatkan pendukung baru. Selain itu, cara itu salah satu upaya membuat mental lawan down, hilang gairah dan mengalah dengan sendirinya.
Sebab, dukungan yang sebenarnya adalah mandat resmi yang nantinya diserahkan pada saat pendaftaran. Di meja TPP barulah ketahuan berapa sebenarnya dukungan yang diperoleh masing-masing bakal calon.
Klaim didukung pemilik suara bahkan menggunakan power kepala daerah dan politikus lumrah berlaku pada Musorprov. Di Sumbar sendiri sudah jamak terjadi. Telah biasa.
Dari dua calon yang mengapung, Salah satunya terkesan mendapat dukungan kepala daerah. Mulai dari support langsung dari salah satu Pengprov Cabor yang ketua umumnya wakil kepala daerah sampai berapa kali memperlihatkan berfoto dengan gubernur dalam berbagai kesempatan.
Hanya saja, berkaca dari pemilihan Musorprov KONI Sumbar 2021 lalu, dimana calon tersebut juga berencana maju saat itu, dan disebut-sebut di dukung kepala daerah, tidak bisa berbuat banyak.
Jangankan maju ke tahap pemilihan, syarat pencalonan 30 persen saja tidak terpenuhi, sehingga calon tunggal saat itu, Ronny Pahlawan menang secara aklamasi.
Itu artinya klaim mendapat dukungan kepala daerah tidak menjadi jaminan melenggang dengan mudah. Tak ada garansi dekat dan didukung gubernur jabatan Ketua KONI sudah pasti di tangan.
Pemilik suara sah pada Musorprov mendatang, saat ini lebih mementingkan tokoh yang serius memperbaiki situasi dan kondisi olahraga daerah.
Calon yang tidak hanya dekat dengan pemangku kebijakan. Namun memiliki link yang luas di pusat, terutama dengan stakeholder terkait, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Calon yang maju bukan saja berkorban tenaga, waktu dan pikiran, namun juga materi. Tidak zamannya lagi mengandalkan APBD dengan beragam visi dan misi. Itu basi. (*)







