Ngeri-ngeri Sedap, Pemilihan Ketum KONI Sumbar “Dipaksa” Seperti Pilkada

Arief Kamil Wartawan Olahraga.

Ada yang menarik jelang pelaksanaan Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat yang menurut rencana akan berlangsung pertengahan bulan ini.

Tensi jelang Musorprov sudah seperti Pilkada kepala daerah saja. Indikasinya terasa mulai dari lobi-lobi politik menggunakan kekuatan kepala daerah, tokoh politik terhadap ketua KONI kabupaten/kota hingga Ketua Pengprov cabang olahraga.

Tujuannya agar pemilik suara yakni KONI daerah dan Pengprov Cabor memberikan dukungan kepada calon tertentu.

Suasana lain terasa ketika ada calon yang maju secara berpasangan. Padahal yang dipilih pada Musorprov nanti hanya satu calon yang maju pada pemilihan. Itu pun sudah lulus verifikasi dan mendapat dukungan, bukan seperti pemilihan kepala daerah.

Maju dengan berpasangan, meski pada Musorprov hanya satu nama yang dipilih, secara tidak langsung membingungkan masyarakat dan pelaku olahraga Sumatera Barat. Sebab, sebelumnya hal ini tak pernah terjadi.

Selain itu, gaya seperti ini  bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KONI, karena dalam pemilihan ketua umum hanya ketua umum saja yang dipilih dan mendapat legitimasi.

Sedangkan untuk kepengurusan seperti sekretaris dipilih oleh ketua umum terpilih sebagai ketua formatur dan didampingi dua orang formatur atau lebih yang dipilih dalam Musorprov.

Patut dipertanyakan, apakah bakal calon ketua umum yang berencana maju tersebut tidak yakin dengan kekuatan yang ada, sehingga mencari dukungan lain, sehingga seolah-olah maju secara berpasangan?

Anomali yang saat ini seakan menyeret pesta demokrasi olahraga ke ranah politik. Cara-cara yang dilakukan untuk meraih simpati dan dukungan pun sudah mencederai olahraga.

Lobi dan mencari dukungan tentu sah-sah saja selagi sejalan dengan semangat dan marwah olahraga. Namun, ketika cara-cara yang digunakan sudah mengadopsi politik praktis, tentu sudah melanggar sportivitas.

KONI kabupaten/kota serta Pemprov Cabor harusnya arif dengan kondisi yang terjadi saat ini. Jangan larut dengan anomali yang sengaja diciptakan oleh oknum tertentu sehingga mengobok-obok tatanan olahraga yang selama ini menjadi rujukan.

Pilihlah calon ketua umum yang benar-benar memiliki rekam jejak serta pengalaman dalam mengurus organisasi olahraga, minimal pernah menjadi pucuk pimpinan di KONI daerah atau Pengprov cabang olahraga.

Salam Olahraga! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *