Dharmasraya – Pagi itu kopi terasa begitu nikmat, dari kejauhan terlihat enam orang mengendarai sepeda motor, masuk menuju areal gedung baru namun terlihat tua. Sunyi seram, layaknya bangunan yang sudah ditinggalkan sang penghuni bertahun tahun.
Motor pun di parkir di bawah rindangnya pepohonan. Dengan langkah tergesa, enam orang itu masuk ke salah satu gedung dan tak lama keluar dengan membawa peralatan kebersihan.
Ternyata, enam orang itu petugas kebersihan di gedung Sentra IKM Logam, Jorong Kampung Dondan, Kenagarian Gunung Medan, Kecamatan Sitiung yang di bangun sejak tahun 2018 lalu dengan menelan uang rakyat mencapai kurang lebih Rp50 milyar.
Di balik senyapnya menyapu dan mengangkut sampah, ada kisah pilu yang sering tak terlihat dari petugas kebersihan.
Mereka bekerja keras setiap hari, memastikan lingkungan tetap bersih dan nyaman bagi semua orang. Kami pun mencoba menghampiri.

Dengan upah yang kecil, petugas kebersihan di IKM itu, sering kali harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun peran mereka vital untuk kesehatan dan kenyamanan, petugas kebersihan sering kali luput dari perhatian dan penghargaan masyarakat.
Wajah lesu dengan tatapan mata yang penuh harap, enam orang petugas kebersihan dari berbagai nagari itu, tetap menjalankan tugasnya, meski dengan gaji yang mereka terima dibawah upah minimum atau (UMR).
Sesekali candaan terlihat diantara mereka, seakan saling memberikan semangat dan menghilangkan rasa lelah yang tak berujung. Namun, wajah lesu, tetap saja terlihat.
“900 ribu pun gaji nan kita tarima, syukuri saja, mungkin pemerintah sedang berjuang pula untuk kita,” gurau Rehan, Rabu (27/08/25).
Dulu, ada 16 petugas kebersihan di gedung yang dibangun di atas lahan lebih dari satu hektar ini. Kini hanya tinggal beberapa orang yang tersisa.
Enam petugas kebersihan, satu operator, tiga teknisi dan tiga satpam masih bertahan.

Guratan lelah sekaligus pasrah jelas tergambar di wajah mereka. “Dulu gaji kami Rp1,2 juta sebulan. Tapi sering tidak utuh, kini kami hanya menerima Rp900 ribu per bulan,” ucapnya dengan senyum kecut seakan menggambarkan getirnya kisah itu.
Rasa perih juga tak dapat disembunyikan oleh rekan kerjanya Dharmansyah dengan nada yang tak kalah pahit. “Padahal dulu dijanjikan Rp1,5 juta, tapi sampai sekarang belum pernah kami rasakan.”keluhnya
Resti, pekerja perempuan di sana, hanya bisa menunduk saat ditanya. Baginya, angka Rp900 ribu bukan sekadar upah, melainkan beban. Bagaimana mungkin cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, sementara harga harga terus melonjak
“Kadang bingung, tapi ya mau bagaimana lagi,” kata wanita berambut pirang itu, dengan senyum penuh luka.
Lebih ironis lagi, meski Sentra IKM Logam sudah menjadi aset Dharmasraya, para pekerjanya justru kerap harus merogoh kocek pribadi demi menunjang operasional sehari hari.
“Tidak ada minyak, kami beli pakai uang sendiri,” ujar seorang pekerja dengan nada sedikit mendongak, menggambarkan betapa lemahnya perhatian yang seharusnya mereka dapatkan dari pemerintah.
Dulu, ada mesin yang membantu pekerjaan mereka. Kini, mesin itu rusak, tak pernah diperbaiki Satu demi satu, pekerja memilih mundur. “Ada yang enggak tahan, akhirnya berhenti,” tambahnya.
Bahkan salah seorang pekerja, Ikhsan, warga Gunung Medan, kini hidup dengan luka yang tak bisa hilang. Urat kakinya putus saat bekerja, meninggalkan bekas yang bukan hanya di tubuh, tapi juga di hatinya.
Yang membuat kisah ini semakin pilu, para pekerja tak berani bersuara. “Kami takut untuk buka suara. Takut nanti ada masalah,” bisik seorang di antara mereka. Rasa takut itu membungkam, meski kenyataan sudah begitu menyakitkan.
”Keamanan pun jauh dari harapan. Tabung oksigen hilang, pompa air hilang, banyak barang hilang. Satpam ada, tapi kadang masuk kadang tidak. Kalau pun datang, cuma sebentar untuk ngecek. Barang tetap saja hilang,” ungkap seorang petugas dengan nada putus asa, seperti menunggu hujan di musim kemarau.
“Dulu dijanjikan naik, tapi sampai sekarang enggak pernah. Malah makin berkurang,” ucap Dharmansyah sambil menghela napas panjang, seolah menyimpan sesak di dada.
Kini, yang tersisa hanyalah keinginan bertahan. Ada yang tetap bekerja karena tak punya pilihan lain. Ada pula yang masih menyimpan secuil harapan, meski samar, bahwa suatu hari keadaan akan berubah. Tapi di balik itu, ada air mata yang tak pernah terlihat di balik wajah mereka yang tampak tegar.
Sentra IKM Logam Dharmasraya, yang dulu di impikan sebagai pusat kemajuan, kini hanya menyisakan kisah getir orang orang kecil yang terpinggirkan. Gedungnya megah, tapi kehidupan di dalamnya rapuh. Ia menjadi simbol ironi pembangunan yang tak pernah berpihak pada mereka yang seharusnya paling merasakan manfaat.
Pertanyaan pun menggantung di udara sampai kapan mereka harus bertahan dalam ketidakpastian ini, akankah ada yang peduli, sebelum semua harapan benar benar sirna, terkubur di balik dinding beton Sentra IKM Logam.
“Ada Rp200juta anggaran APBD yang dikucurkan untuk segala biaya di kegiatan IKM tersebut,” kata Kadis Komperdag Ronie Puska, ketika ditemui usai Salat Zuhur di masjid belakang kantor bupati setempat.
Dengan nada yang cukup bersahabat, pria yang sebelumnya menjabat Kadis Perkimtan itu mengatakan, seluruh tenaga kerja yang ada di IKM masuk dalam BPJS.
“Daerah sedang berusaha untuk keluar dari kesulitan ini, kita berharap petugas kebersihan di IKM tetap semangat dalam menjalankan tugas,” harapnya.
Namun, dibalik semua cerita pilu yang dialami oleh petugas kebersihan di IKM, tersimpan sebuah rencana, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Dharmasraya. Itu dulu saat akan di bangun. (*)




