Tenggelamnya Dua EO Penjurian Nasional di Kota Padang, Ada yang Kurang?

Logo EO Radjawali Indonesia dan Ronggolawe Nusantara.


Padang, posinfo.co – Pada masanya, Event Organizer (EO) penjurian nasional terbilang eksis di Kota Padang, bahkan Sumatera Barat. Keduanya adalah Radjawali Nusantara (RN) dan Ronggolawe Indonesia (RI).

Hanya saja, dengan berjalannya waktu, dua EO nasional itu seakan tak berdenyut lagi, mati segan, hidup tak mau.

Indikasi “komanya” dua EO ini bisa terlihat dari minimnya eksistensi keduanya di Kota Padang yang notabene etalese Kicau Mania Sumatera Barat.

Dua EO ini memiliki rekam jejak yang terbilang “dalam” di dunia kicauan tanah air. Bahkan sebagian besar pakem lomba merujuk pada aturan yang dimiliki oleh kedua EO ini.

Lantas mengapa RI dan RN saat ini terkesan tiarap di tengah hingar bingarnya dunia kicau di Kota Padang dan Sumatera Barat?

Secara terperinci, apa alasannya, memang kalangan di luar dua EO ini tidak ada yang tahu.

Alasan pasti, tentu unsur pengurus dari dua EO ini yang tahu. Namun, kicau mania boleh saja berasumsi, memberikan masukan dengan harapan dua EO ini kembali eksis di belantika kicau mania Ranah Minang.

Permasalahan Interen

Banyak “kepala” dalam sebuah organisasi berikut sikap egois para petinggi merupakan ancaman mutlak hancurnya sebuah organisasi.

Permasalahan interen yang tak berkesudahan bisa menjadi alasan klasik mengapa sebuah organisasi itu jalan di tempat, koma bahkan bubar.

Penulis melihat faktor ini menjadi alasan utama mengapa RI dan RN saat ini terkesan tiarap. Padahal dari sisi kepengurusan dan kualitas juri keduanya tak perlu diragukan lagi.

Kegagalan menyelesaikan masalah interen akan membuat dua EO ini makin tenggelam. Padahal EO lain tetap melangkah meski dalam kondisi serba kekurangan.

Harus dipahami, EO dengan “akar” dan “batang” yang bagus apalagi kualifikasinya EO nasional belum tentu menjamin eksis di daerah. Justru EO independen bisa bertahan di tengah kepungan badai, salah satu contohnya, EO Wahana.

Mengapa demikian? Itu karena EO independen manajemennya ringkas, mampu meminimalisir konflik interen dan memilih main aman.

Sementara EO dengan label nasional, konflik interen sangat terbuka terutama antara pengurus dengan pengurus, termasuk pengurus dengan para juri.

Permasalahan Juri dengan Pemain

Pemain adalah raja, ungkapan itu sering berdengung di arena lomba. Tapi, tidak selamanya pemain menyandang mahkota di kepalanya.

Jika benar pemain adalah raja, maka EO penjurian adalah istananya. Jangan mengaku raja kalau tidak ada istana, jangan pula bangga istana jika tak ada rajanya.

Artinya, dua elemen ini saling membutuhkan, Saling mengisi dan harus saling mengerti.

Hanya saja pada prakteknya, konflik antara EO dengan pemain seakan tak bisa terpisahkan.

Masalah ketidakpuasan penilaian menjadi sebuah musabab. Padahal, trust menjadi kunci antara keduanya, juri dan pemain.

Sayangnya, kicau mania khususnya pemain kurang menyadari apa itu sportivitas dan fair play.

Masuk ke arena lomba atau latberan tentu harus siap menang siap kalah, sama seperti ikut Pilkada.

Bagi yang menggantang burung, tentunya harus menyerahkan sepenuhnya penilaian terhadap juri yang bertugas. Toh, keputusan juri mutlak dan tak bisa diganggu gugat.

Jika mental pemain sudah dewasa, dan menyadari fungsi juri, maka kemungkinan tak akan ada konflik antara juri dan pemain.

Tapi pada kenyataannya, tak mudah mengambil hati pemain. Lantaran, masih ada saja oknum juri yang mencederai kepercayaan pemain.

Tak ayal beberapa waktu lalu sempat viral permasalahan dugaan juri menerima “upeti” saat lomba.

Gratifikasi di arena gantangan sudah jadi rahasia umum, meski sejauh ini sulit dalam hal pembuktian. Ini yang harus di bumi hanguskan di dunia hobi.

Permasalahan antara pemain dan juri menyangkut penilaian, akan berimbas terhadap kepercayaan pemain dengan EO tertentu.

Makanya, ada beberapa EO yang ditinggal pemain, hingga harus memutar otak mencari terobosan untuk kembali mendapatkan konsumen.

Tidak mudah untuk kembali mendapat kepercayaan. EO yang secara prinsip menjual “jasa” harus mampu berubah dan menunjukan perubahan itu. Jika tidak mampu, ya, tenggelam seperti Costa Concordia atau kapal legend Titanic.

Dua kapal itu tenggelam lantaran tidak bisa mengambil  hati dan kepercayaan ombak, padahal berada di tengah-tengah samudera dengan ombak yang ganas.

Saatnya Bangkit dan Bangun Kepercayaan

Mungkin banyak yang sepakat, ada yang  kurang tanpa kehadiran Radjawali Indonesia dan Ronggolawe Nusantara di kancah kicau Sumatera Barat.

Dua EO ini termasuk paling top menggawangi lomba-lomba berkelas di Ranah Minang. Saat jayanya, pada iven lomba besar rata-rata di dominasi oleh tiga penjurian, RI, RN atau BnR.

Upaya untuk bisa kembali bangkit ke permukaan di mulai dengan melakukan reformasi tatakelola organisasi yang baik, bukan saja pada kalangan pengurus namun juga jajaran sang pengadil yang merupakan ujung tombak.

Tak ada salahnya melakukan jajak pendapat atau menjaring saran dari pemain menyangkut siapa saja juri yang masih mendapat kepercayaan atau sebaliknya.

Sekedar mendengar apa salahnya, keputusan tentu ada di tangan pengurus, baik daerah hingga level pusat.

Memberikan ruang kepada pemain untuk ikut membangun organisasi dari luar sangat penting sebagai upaya membangun kepercayaan dari kalangan akar rumput.

Langkah ini sangat jarang dilakukan. EO kadang lebih mengutamakan pemikiran dari lintas pengurus. Padahal, suara-suara dari luar sangat perlu di dengar untuk kemajuan organisasi.

Ya, semoga saja dua EO hebat ini segera bangun dari tidurnya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?

(Arief Kamil, Pemerhati Kicau Sumatera Barat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *