Dari Januari Hingga Juni 2023, Terjadi 4.175 Perceraian di Sumbar

Ilustrasi perceraian.
Ilustrasi perceraian.

Padang, posunfo.co – Sumatera Barat termasuk sebagai salah satu provinsi penyumbang angka perceraian tertinggi di Indonesia.

Hal ini di buktikan dengan signifikannya kasus perceraian yang terjadi yang di tunjang oleh beberapa penyebab.

Tercatat, pada semester 1 dari Januari hingga Juni 2023, tercatat sebanyak 4.175 kasus perceraian di Ranah Minang.

Setelah di telisik, ternyata penyebab utama terjadinya perceraian tersebut lantaran perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus.

Gubenur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menyebutkan hal ini dalam sebuah seminar yang berlangsung, Kamis (10/8/2023) di Auditorium Gubernuran.

Perceraian Terbanyak Terjadi di Kota Padang

Dari jumlah angka perceraian ini, Pasutri yang bercerai labtaran perselisihan dan pertengkaran terus menerus sebanyak 3.589 kasus. Terbanyak terjadi di Padang dan Pariaman.

Selanjutnya, pemicu dengan meninggalkan pasangan satu sama lain sebanyak 463 kasus. Terbanyak terjadi di Kota Padang dengan jumlah kasus 133.

Berikut, penyebab perceraian lainnya adalah karena faktor ekonomi, dengan jumlah 67 kasus. Kasus tertinggi ada di Kota Bukittinggi.

“Siapapun yang dominan dalam hal perceraian ini, berdampak sistemik, dan kontraproduktif untuk pembangunan bangsa.”

“Korban utamanya adalah perempuan dan anak, akan melahirkan anak-anak yatim secara massif, juga duda dan janda,” ujar Mahyeldi.

Ia menyebut fungsi keluarga sebagai institusi yang diharapkan melahirkan generasi hebat menjadi sirna jika terjadi perceraian.

“Bahkan berubah menjadi musibah,” terang gubernur.

Tingkatkan Ketahanan Keluarga

Gubernur menegaskan, ketahanan keluarga adalah kemampuan menghadapi dan mengelola masalah dalam situasi sulit.

Hal ini agar fungsi keluarga tetap berjalan dengan harmonis. Sehingga tercapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin seluruh anggota keluarga.

Baca Juga: Sampai di Padang, Teriakan Anies Presiden Bergema di Mana-mana

“Keluarga akan tahan menghadapi masalah, kalau dihadapi dengan respon yang baik dan positif.”

“Permasalahan dapat di kontrol dengan emosi yang baik dan tidak menyalahkan orang lain, dengan menerima permasalahan dengan baik,” sebutnya.

Faktor yang mempengaruhi ketahanan keluarga antara lain jumlah anggota, lama menikah, dan tekanan ekonomi.

Pembangunan keluarga merupakan suatu upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kemajuan pembangunan keluarga dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Keluarga ( iBangga), yang terdiri dari 3 dimensi, yakni  ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan.

Hasil dari indeks tersebut di gunakan untuk mengklasifikasi status perkembangan keluarga melalui kategori Tangguh, Berkembang dan Rentan.

Indeks Pembangunan Keluarga sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk benar-benar menemukan permasalahan keluarga hingga ke dasar, sehingga penanganannya dapat dilakukan secara tepat. (007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *