Ciloteh Lapau: Anak Tiri Serasa Istri, Predator Anak Mengintai

Siang itu mentari begitu terik, rasa gerah dan keringat terus mengalir. Seperti biasanya, saat siang menjelang sore menyapa, para kuli tinta mulai merapat ke posko warung kopi, tempat di mana para ahli tulis itu meracik berita lewat tulisannya yang menggigit.

Para jurnalis di Kabupaten Dharmasraya berbaur dan berkumpul membahas isu terkini di kabupaten tersebut.
Para jurnalis di Kabupaten Dharmasraya berbaur dan berkumpul membahas isu terkini di kabupaten tersebut.

Dharmasraya – Berbagai bentuk ragam berita yang akan di racik, selalu menjadi diskusi hangat jelang tayang diberbagai media. Tak jarang celotehan bernas dari para kuli tinta yang tengah menikmati pahitnya kopi.

Wartawan senior Ridwan syarif yang juga komisioner Baznas itu, dengan mata tajamnya, terus menatap pada pria paruh baya, Mas Ex sapaan akrab Wartawan TV, yang baru datang dan memakir motornya.

Sambil jalan tergopoh gopoh, Mas Ex dengan gaya tas sandangnya itu nyeletuk,” kopi sakarek rang kadai,” sembari mencari tempat duduk yang sudah mulai penuh.

Satu persatu topik pembahasan dari berbagai kejadian di daerah itu mulai di kupas.

Ada yang memunculkan isu Pilkada dan adanya juga tentang predator anak mengintai.

Kalau predator anak ko, menarik untuk di bahas, soalnya, menyangkut masa depan generasi bangsa,” kata Plt Ketua PWI Yahya sambil meneguk segelas kopi.

Di warung kopi milik Susi samping kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Dharmasraya itu, diskusi predator anak di bawah umur yang kian mem-bomming, menjadi topik menarik untuk di bahas.

“Anak tiri, serasa istri” judulnya,” Sela seorang wartawan senior Ridwan Syarif, ketika kasus pelecehan terhadap anak, menjadi “hantu” yang menakutkan bagi anak gadis dan para ibu.

Predator Anak Mengintai

Seperti yang terjadi baru-baru ini, pelecehan seksual di Nagari Gunung Medan, Nagari Sungai Duo, Nagari Ampang Kuranji dan Nagari Koto Baru.

Kini, kasus ayah “engkol anak” kembali terjadi di Nagari Ampek Koto Pulau Punjung.

Cuma saja sedikit berbeda dengan yang terjadi di nagari tetangga itu. Di Nagari Ampek Koto Pulau punjung itu, ayah tiri gagahi anak tiri hingga empat kali, dan kini ayah tiri itu sudah pindah rumah yang tak berdapur.

Kalau iko, yo ayah yang tidak beradab dan indak punyo hati,” kata Yanti Abel, wartawati Infestigasi.Net.

Sesekali wartawan gaek, Sutan Sari Alam yang baru saja lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) itu pun nyeletuk,” Itu seorang ayah nan berhati setan namoe, masak iyo anak surang di makan,”.

Di balik keseriusan tentang kondisi predator anak yang terus mengancam, seakan tak pernah habis, meski di penjarakan. Sore pun mulai menampakan wajahnya.

Diskusi bagaimana menyelamatkan generasi emas mulai menepi. Peranan niniak mamak serta pemangku adat sangat lah penting dalam menyelamatkan anak negri ini. Kata
Ridwan Syarif sosok tokoh niniak mamak di Nagari Sialang Gaung itu.

“Ini persoalan kita bersama, tak bisa kita beratkan pada pemerintah saja,” ucapnya ditengah kopi yang sudah mulai terbubuk.

Lamak nyo kopi ko, sampai rangkungan nyo sanak, mari kito jago masa depan anak negrei ko secaro basamo-samo,” celetuk wartawan Shotline, Bambang itu.

Perkuat Perlindungan Anak

Dalam percakapan itu, satu pesan seolah terlantun dengan jelas kebutuhan akan keamanan untuk anak-anak.

Para wartawan dan masyarakat berharap, baik pemerintah maupun lembaga sosial akan memperkuat perlindungan dan memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, tumbuh dalam lingkungan yang aman.

Ketika matahari mulai bergeser dari puncaknya, para kuli tinta satu persatu meninggalkan warung kopi Susi.

Ambo pulang duluan yo sanak, ko istri lah menunggu mintak di japuik, kata Bambang.

Warung kopi itu pun mulai sepi, seiring langkah kuli tinta dengan satu harapan, agar setiap langkah dan berita yang mereka kabarkan bisa menjadi bagian dari perlindungan bagi mereka yang belum mampu melindungi diri.

Sembari berjalan menuju motornya, Plt Ketua PWI itu berceloteh, walinagari harus buat Peraturan Nagari (Pernag) yang mengatur dan membatasi kebebasan anak dalam bergaul, serta jam keluar rumah bagi anak di bawah umur.

“Satu lagi, kalau anak lah gadih, pakaian dijago, jan seksi-seksi juo, jan ma manyanda nyanda juo ka ayah. Kalau ayah sajo di rumah, jan dirumah pulo, kejahatan itu akan terjadi jika ada peluang,” kata Bang Napi dalam acara sergap pada tahun lalu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *